Showing posts with label Qatar. Show all posts
Showing posts with label Qatar. Show all posts

4.28.2011

Rasis di Tanah Arab



Orang Arab rasis? Setidaknya itulah cerita yang kudengar selama aku berada di Qatar. Penduduk Qatar atau yang disebut dengan Qatari, hanya boleh menikah hanya sesama Qatari. Jika ada orang Qatari yang menikah dengan orang di luar Qatari, maka bersiaplah keluarga dan negara turut campur.

Mungkin itulah arogansi negara kaya. Qatar sebagai negara baru yang memiliki kekayaan gas dan minyak melimpah memang sangat melindungi warganya. Hal ini terlihat tidak hanya dengan melarang warganya menikah dengan warga negara lain, tetapi juga masalah pekerjaan yang menjamin warganya mendapat pekerjaan di posisi strategis Perusahaan.

Masalah pernikahan ini sebenarnya menjadi masalah tersendiri bagi warga negara Qatar yang jatuh cinta terhadap warga negara lain. Serbuan pendatang yang masuk ke Qatar membludak, dari berbagai negara, terutama dari India dan Philipina.


Tetapi siapa yang bisa menebak kemana arah cinta berlabuh? Banyak juga cowok Arab yang berpacaran dengan cewek Philipina ^_* . Katanya cewek Philipina lebih menyenangkan daripada cewek Arab. Hm...benarkah? Padahal cewek Arab kan cantik-cantik ya..


Lain cerita ketika Abangku yang bekerja disana tidak boleh masuk salah satu Mall. Jadi, dihari-hari tertentu, ada yang namanya Family Day. Hanya yang jalan bersama keluarga yang boleh masuk mall tersebut, yang bujangan tidak boleh. Kecuali cowok Arab dan Western!

Kenapa abang ku yang kebetulan datang sendiri dilarang masuk? Mereka under estimate dengan orang tampang Asia kayak kita gini. Abang ku protes keras karena dibedakan sendiri. Tapi apa mau dikata, sekeras apapun protes, mereka lebih punya kuasa.

3.30.2011

Beragam Cerita TKI Bekerja di Qatar


Saat ini Qatar merupakan incaran para pekerja dari belahan dunia, termasuk Indonesia. Negara yang saat ini merupakan negara berpendapatan kedua tertinggi di dunia ini menjadi harapan baru ditengah keterpurukan ekonomi di Eropa dan beberapa negara lainnya. Tak heran, banyak para pekerja yang mulai melirik peluang kerja di Doha, Qatar

Saat ini, orang Indonesia yang bekerja di Qatar bukan hanya para pekerja informal tapi ada juga yang menjadi ekspatriat (tenaga ahli) di berbagai perusahaan, misal di perusahaan Minyak dan Gas, Telekomunikasi, Bank, Penerbangan, dll. Bahkan pilot pribadi Emir (Raja) Qatar salah satunya adalah WNI. Bangga juga ya..


Penduduk Qatar sendiri hanya berjumlah 400 ribu, sementara orang Indonesia yang berada disana sekitar 25.000. Yang bekerja di Qatar Petroleum (perusahaan minyak) ada sekitar 200 orang (termasuk abang saya). Sepertinya jumlah ini akan bertambah terus mengingat kondisi ekonomi Indonesia yang tak pasti dan mereka yang tergiur dengan gaji besar :D

Biasanya orang Indonesia berkumpulnya di pengajian. Ada pengajian anak-anak juga yang diadakan setiap hari Sabtu di Kaifa. Yang paling saya suka di Kaifa inilah adalah gedungnya yang unik, seperti spiral, terutama pada saat malam hari. Lampu remang-remang yang dipasang semakin memperkuat keunikan gedung ini.



Disini ada juga toko yang menjual produk Indonesia, seperti kecap Bango, Teh Kotak Sosro,Indomie. Barang-barang ini bisa didapat di toko Jakarta dan Qatindo (Qatar Indonesia). Restaurant Padang pun sudah ada disini. Tapi kalau makanan Padang sih dimana-mana ada, kalau di bulan ada penduduknya pasti makanan padang juga ada disana hehe...

3.04.2011

Doha : The city of Flying Landcruiser


Doha is the city of Fying Landcruiser. Landcruiser memang menjadi mobil favorit disini. Entah mengapa orang disini pake mobil gede-gede. Jadi kalo ngeliat mobil Honda Jazz kayak mobil-mobilan. Hampir setiap orang di Doha memiliki mobil pribadi. Makanya sulit mencari taksi jika tidak di mall.

Susahnya mendapatkan taksi inilah, membuat saya merana di corniche. Saya janjian dengan seorang teman di corniche. Sebuah taman dengan pemandangan laut lepas. Corniche memang menjadi tempat favorit banyak orang. Selain karena letaknya ditengah kota, gratis, banyak kursi buat kongkow plus ngecengin cowok-cowok berbagai negara yang sileweran. *Dasar ganjen!


Kamipun mengunjungi Museum of Islamic Art yang terletak di corniche. Disini banyak barang-barang sejarah Islam dari berbagai negara. Disana saya ketemu orang Jepang yang sedang motret. Dari jauh saya kira dia orang Indonesia karena profil badannya yang hampir sama. Kamipun berkenalan. Namanya Taci. Lalu kami menjelajah meseum ini bersama-sama. Setelah 1 jam keliling di meseum, saya kelaparan. Saya tanya, rencana dia selanjutnya. Eh, dia malah nawari makan di kantornya! Katanya sih murah dan dekat. Ga perlu naik taksi. Saya pun oke aja ngikuti dia.

Dia cerita kerja di kapal Logos Hope dan menceritakan berbagai pengalamannya yang sudah mengunjungi beberapa negara. Ini memang paling bikin saya iri, pengen dapat kerjaan yang bisa keliling dunia gratis! hehe..

Ternyata jalan disiang bolong gini, cukup ngerasa terbakar, bo! Saya mulai ngomel-ngomel ke dia.
"Masih lama ga? saya udah lapar banget nih. Udah kepanasan, udah kebakar. Seharusnya saya bawa payung nih"
"Dekat lagi kok, itu udah kelihatan dermaganya. Alah kamu bilang disini panas, di Indonesia kan lebih panas lagi" katanya
Gubrak!

Hiks, tapi di Indonesia kan ga pernah jalan disiang bolong begini, ga ada pohon berteduh lagi. Sayapun pasrah. Orang-orang Arab pada ngeliatin kami berdua yang berjalan kaki disiang panas. Dia dengan sepedanya, saya yang ngomel terus menerus. Jadi teringat salah satu adegan di film Korea. Halah!

Fiuh...akhirnya sampai juga. Rasaya muka dah kebakar. Kalau disiram air udah melepuh kali. "dimana makannya?" kata saya
"di dalam kapal.. katanya sambil menunjuk salah satu kapal
Saya mulai takut. Kenapa saya harus percaya sama orang Jepang yang baru saja kenal? Gimana kalo saya dibekap di dalam kapal dan di....... oh Tidakkk

"Gimana kalo kapalnya jalan? tanya saya mulai cemas
"Kau kira aku mau menculikmu? Kau bilang kau lapar. Di dalam ada restaurant dan bookfair. Kau pasti suka" katamu mencoba meyakinkan aku

Okelah..saya mencoba mempercayainya. Semua orang menyambut saya ramah. Seakan saya ini tamu penting. Dia memperkenalkan saya keberapa orang temannya dan mereka menggoda Taci pakai bahasa Jepang.

Lalu kamipun masuk ke restaurant di dalam kapal. Entah mengapa nafsu makan saya menguap entah kemana, saya hanya ingin minum banyak-banyak. Entah udah berapa gelas. Tanpa malu.

Beberapa orang bergabung di meja kami. Ada yang dari Ekuador, Italy dan Indonesia. Saya pun bertanya apa misi kapal ini, siapa yang mendanai, apa kegiatan dan bla bla lainnya. Rencananya tahun depan mereka akan ke Indonesia.

Lalu, saya diajak ke bookfair yang ada di lantai bawah. Buku-bukunya cukup murah dan beragam. Kalau tidak mengingat kapasitas tas, pasti udah borong buku. Jadinya saya hanya melihat lihat saja.

Hari menjelang sore, sayapun bergegas pulang. Saya katakan pada Taci, saya ga mau jalan kaki lagi. Dia pun mengantar saya ke bus station disekitar kapal. "Tidak usah membayar apa-apa, ini bagian dari service kami" katanya. Tak lupa, kami pun photo berdua untuk kenang-kenangan dan tukar-tukaran email.


Sesampai di corniche saya berencana pulang naik taksi. Sayapun berdiri manis didepan taman. Tapi ampun dj....udah sejam nungguin taksi ga ada yang lewat. Kalopun lewat, sudah ada penumpangnya.

Udara di Doha cukup bersahabat. Masih sekitar 24-27 derajat celcius. Tapi angin kencang disana cukup bisa bikin masuk angin. Dingin pula! Rasanya sudah hampir membeku. Sudah menjelang malam, akhirnya saya memutuskan untuk menelpon abang saya untuk menjemput.

Ga ada pilihan lain. Daripada saya membeku disini sebelum pulang, lebih baik saya minta pertolongan. Jarak rumah dan corniche cukup jauh.Kalau lancar bisa 30 menit. Akhirnya ketika abang datang menjemput, saya sudah diam membatu. Dingin banget bo!

Cerita tentang Doha bisa dilihat juga disini :

Villagio : Sungai di Dalam Mall

Hati-hati Jalan Sendirian di Doha

2.22.2011

Doha, Menjejak Kembali


Menjejak kembali, tanah yang pernah kupijak 2 tahun lalu. Cuaca disini cukup bersahabat. Dingin yang menyusuk tulang di pagi hari, cuaca panas di siang hari dengan suhu sekitar 27 C dan angin semilir yang menyejukkan.



Berangkat dengan penerbangan Etihad Airways selama 6 jam dan transit di Abu Dhabi. Transit yang melelahkan karena harus menunggu selama 3 jam untuk penerbangan ke Doha di dini hari yang panjang.

Di tengah kantuk dan rasa yang lelah, tak sedikitpun mengurangi rasa antusiasku terhadap negara yang konon berpenghasilan tertinggi di dunia ini. Aku sampai pukul 3 dini hari waktu Qatar. Dijemput dengan abangku yang sudah menunggu sedari tadi, kamipun menceritakan perjalanan yang panjang, lelah sekaligus menyenangkan.

Selama perjalanan ke rumah, memoar kenangan satu per satu terkuak. Doha banyak berubah. Pembangunan yang besar-besar nampak sekali ingin menampilkan negara Arab dengan cita rasa modern. Gedung-gedung seakan berlomba untuk menjadi yang tertinggi.

Tapi satu yang tak pernah aku lupa, corniche beach. Pantai yang panjang ini berada di tengah kota Doha dan selalu menjadi tempat wisata favorit. Sayang, aku belum sempat mengeksplore pantai ini lagi.

Doha, i'm back. Dan siap untuk mengeksplore Doha

Cerita Tentang Doha bisa didapat juga di Lovely Travelling

2.11.2011

Doha, How Are You Today?




Setiap perjalanan selalu melahirkan inspirasi -Isti

November 2008 untuk pertama kalinya aku datang ke Qatar. Sebuah Negara Arab yang sedang dibangun modern dan indah. Tidak seperti Negara Arab lainnya seperti Arab Saudi yang memiliki peraturan yang ketat, Qatar justru membangun dirinya menjadi Islam yang toleran dan moderat.

Sebelumnya, tidak banyak yang kutahu tentang negara ini. Hingga aku datang dan menetap selama sebulan disana. Aku datang bersama ibu dan tinggal bersama abangku yang kebetulan kerja disana.

Tugasku, menjaga kedua keponakan, Fathan dan Faiza selama abang dan kakak iparku menjalankan ibadah haji. Jadilah, aku dan ibu membagi tugas. Ibu memasak, dan aku mengajak mereka bermain. Tugas yang paling ringan. ;)

Lambat laun, aku mulai suka dengan kota Doha. Dan menyeretku untuk mengenalnya lebih jauh. Mulailah aku mencari tahu tentang negeri ini dari mbah google dan bertanya sana sini.

Kota ini bersih Tidak tandus seperti yang kubayangkan seperti negara Arab lainnya yang hanya terdiri dari gurun pasir. Taman kota ditata dengan indah. Jalanannya tertib dan tidak macet.

Hanya ini? Tidak. Doha mengubah hidupku secara tidak langsung. Dia membuka mata dan pikiranku. Sebelumnya, aku hanyalah ibu rumah tangga tanpa cita-cita. Tanpa mimpi. Tanpa hasrat.

Tapi disini, kutemukan diriku yang telah lama membuang waktu percuma. Tanpa makna. Dimulai dengan sadarnya aku betapa pentingnya bisa berbahasa Inggris. Bahasa Inggris ku yang terbata-bata ini membuatku tidak percaya diri untuk berbicara dengan orang asing.

Melihat banyaknya orang Indonesia yang bekerja di Doha, membangkitkan gairahku untuk punya mimpi bekerja di luar negeri. Memiliki karir dan yang terpenting adalah mengaktualisasi kemampuan diri agar lebih bermakna.

Setiap perjalanan memang selalu melahirkan inspirasi. Pulang dari Doha, aku langsung kursus bahasa Inggris di English First dan mengikuti berbagai kursus yang aku minati, salah satunya Web Design.

Sekarang, aku telah bekerja. Mimpiku belum semua terwujud. Masih banyak mimpi-mimpi lain yang ingin kuraih.

15 Februari 2011 nanti, aku akan berangkat kembali ke Doha. Kota yang memberiku inspirasi. Kota yang membuka mata dan pikiranku. How are you today, Doha?


11.16.2009

Doha




Aku rindu lautnya
yang bergerak tenang
tanpa ada gelombang pasang surutnya


Pantai tanpa ombak karena berada di teluk
dikeliling oleh taman yang indah
bunga-bunga yang mewangi
yang memberikan kesegaran bagi penikmatnya

Aku rindu teriknya
walau sengatannya membuat kulitku nyaris terbakar
dan debu yang luar biasa beterbangan kesana kemari

Aku rindu semuanya.
Kenangan satu tahun yang lalu, masih ada di ingatanku dengan jelas.
Apa kabarmu kini, Doha?

4.10.2009

Kenangan di Doha; carno?

Kadang ketika aku sendiri, aku rindu akan Doha. Rindu akan keponakanku yang lucu-lucu, rindu akan kota Doha itu sendiri, dimana berbagai macam suku bangsa di dunia ada disana, sehingga kita seperti melihat wajah perwakilan dari seluruh dunia. Ada India, Filipina, Arab, Bule sampai orang Afrika. Amazing...
Dan ada satu kisah lucu yang tidak bisa aku lupa selama disana. Waktu itu, aku, ibu, dan dua orang keponakanku mau jalan-jalan. Untuk mengetahui arah jalan, kami membuka peta. Dan ternyata mal yang paling dekat dengan rumah adalah Landmark. Kami pun berangkat dengan menggunakan taxi. Perjalananan ditempuh selama 15 menit. Tidak lama, dan cuma 11 riyal. Cukup murah.
Supir taxi yang mengantar kami ternyata berasal dari Nepal. Ibuku mencoba beramah tamah dengannya walau dengan bahasa inggris yang ala kadarnya :)
Sesampainya di Landmark, kami belanja di Carrefour. Jumpa dengan orang yang mirip sekali dengan orang Indonesia. Mereka memandang dan tersenyum kearah kami. Ibuku langsung merasa ada "teman".."isti, ada orang Indonesia disana..liat tuh.."
Aku berusaha menjelaskan bahwa mereka bukan orang Indonesia, tetapi orang Filipina. Tentu saja kita mirip, wong kita berasal dari Asia. Asia Face. Begitu kataku ketika ada orang yang menebak aku orang Filipina.
Disana memang banyak sekali orang Filipina. Mulai dari pembantu rumah tangga, sampai yang jadi expatriat. Untuk pekerja middle position mayoritas orang Filipina dan India.
Setelah selesai belanja, kami hendak pulang dan menunggu taxi di luar mal. Ukh.. ternyata lama banget. Eh, ada orang India yang manggil-manggil. Taxi ilegal. Oke deh ayok aja, daripada gak pulang ;)
Setelah negosiasi tarif, kamipun lansung naik. Ibuku duduk depan. Kami bertiga duduk dibelakang. "Carno?" tanya si India membuka percakapan. Ibuku bingung..maksudnya apa ya? Apa jangan-jangan dia tahu sama Soekarno? Kok dia bisa tahu?. Ditengah kebingungan, ibuku nanya "do you know Soekarno? the first President of Indonesia?"
Si India kelihatan bingung..kami dibelakang tertawa-tawa. Karena maksud si India apakah kami punya mobil atau tidak?. Disana orang menggunakan bahasa inggris tanpa mengindahkan grammer.
Akhirnya keponakanku yang kelas 3 sd yang menjawab "nobody couldnt drive to here" hehe..selamat deh...
Walau begitu, ibuku dan si India terlihat sangat akrab. Mereka memulai dengan percakapan tentang Sarukh Khan, tulisan Arab, dia kira kami dari Malaysia gara-gara dia pernah ke Malaysia. Padahal bahasa inggris ibuku dan si India sama-sama parah...
Tapi itulah komunikasi.. kalo masih gak ngerti pake bahasa tangan..
hehe
i miss u doha...

12.24.2008

Cerita TKW kerja di Qatar


Akhirnya aku pulang juga ke Indonesia, setelah sebulan aku berada di Qatar. Meninggalkan rutinitas dan meninggalkan suami tercinta. Pergi ke Qatar buatku sekalian liburan walaupun ada kewajiban lain yakni menjaga keponakan. Doha begitu indah. Begitu tertata rapi. Dan pantai favoriku, Corniche Beach, begitu memukau, memberikan kesan yang sangat mendalam buatku. Pantai yang bersih dan indah dikelilingi oleh gedung-gedung modern dan taman yang asri.
Disana lalu lintas begitu teratur. Tidak ada berlomba-lomba untuk saling mendahului karena semua memang ada aturannya. Misalnya, mobil yang berasal dari jalan besar masuk ke jalan kecil harus didahului, tidak boleh melewati garis jalur putih, dan tidak boleh melanggar lampu merah. Kalau melanggar lampu merah bisa denda 6000 riyal, yakni 18 juta rupiah. Hm.. besar juga. Dan peraturan disana tidak seperti di Indonesia yang dibuat tidak dilaksanakan tetapi benar-benar diterapkan. Dan satu lagi, disana jarang sekali sepeda motor yang seliweran kayak di Jakarta dan bikin macet.

Nah..sudah empat hari aku sampai di Jakarta, tapi rasanya keindahan dan kenangan tentang Doha masih terbayang-bayang.

Yeah.. life must go on..waktu memang terus berjalan dan inilah waktu untuk kembali ke kehidupan nyata. 19 Desember aku dan ibu pulang dengan menaiki pesawat Etihad Airways dengan jam berangkat pukul 23.00. Tetapi kami sampai di bandara terlalu cepat sehingga harus menunggu 2 jam sebelum berangkat. Aku duduk di ruang tunggu bersama penumpang yang lain. Ternyata orang yang disebelahku ini orang Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Udah lama kerja di Qatar"? tanyaku
"Baru setahun mbak" jawabnya
"Bisa bahasa arab?"
"Bisa, ada kursus 2 bulan. Alhamdulillah saya udah bisa".
"Kenapa pulang mbak?" tanyaku
"Aku ga betah mbak.. majikanku suka mabok. Dia baru cerai dari istrinya 3 bulan lalu. Istrinya udah ga tinggal sama dia."
"Kamu pernah diapa-apain sama dia?" tanyaku malu-malu
"Alhamdulillah ga mbak. Tapi dia kalo mabok suka marah-marah, teriak-teriak. Belum lagi anaknya bandel-bandel."
"Oh...." gumamku.

Tidak lama kemudian dia cerita. Kalau ada temannya sesama pembantu sekarang hamil 5 bulan.
"Dia diperkosa?" tanyaku. Maklumlah, kita sering dengar kalau pembantu suka diperkosa oleh majikan yang orang Arab.
"Bukan mbak. Dia dapat majikan baik. Cuma dia pacaran sama orang Egypt (Mesir) padahal udah punya suami di kampung. Tapi dia hamil sama orang Sudan".
"Lo...kok bisa?" tanyaku penasaran
"Soalnya kalo majikannya lagi keluar rumah, dia suka telepon ke orang Sudan untuk datang kerumah majikannya. Trus mereka pacaran disitu mbak.."
"Kalo gitu, dianya yang keganjenan" kataku sebel
"Dia mau karena dibayar mbak. semalam bisa 2000 riyal" kata teman disebelahku ini.
"Apa? oh my God.."
Bisa dibayangkan berapa besarnya uang itu. Dua ribu riyal sama dengan 6 juta rupiah! Aku memang tidak bisa memastikan cerita ini. Tapi, mungkin dapat disimpulkan bahwa tidak semua pembantu yang hamil itu karena diperkosa. Ternyata ada juga yang nyambi jadi pelacur. Ups. sori mungkin terlalu kasar.. tapi memang inilah kenyataannya.
Itulah fenomena tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Ada suka dan duka. Tenaga kerja kerja Indonesia yang bekerja di Qatar sekitar 30.000 orang, mulai dari pembantu rumah tangga sampai ekspatriat (tenaga ahli). Kebanyakan orang Indonesia yang bekerja menjadi ekspatriat bekerja di perusahaan minyak dan gas yang merupakan sumber utama kekayaan alam negara Qatar. Tetapi secara berlahan, sekarang orang Indonesia mulai bekerja di berbagai lini misalnya di bidang telekomunikasi, bank,dll.

11.30.2008

Jalan-jalan ke Doha


Sudah 10 hari aku berada di Doha. Syukurnya kami tinggal di flat yang banyak orang Indonesianya, jadi lumayanlah kalau ada apa-apa.


Gambar disebelah ini adalah salah satu bangunan yang ada di Doha. Selama di Doha aku mengunjungi beberapa tempat, kalau tempat perbelanjaan seperti mal Villaggio. Mal ini panjang sekali dan didalamnya ada sungai buatan.Jadi, kita bisa naik perahu untuk sekedar muter-muter di dalam mall. Design interiornya, mengikuti arsitektur bangunan di Las Vegas, ada cafe-cafe yang mengikuti design Paris Hotel LV. Harga barang-barang di mall ini hm..lumayan cukup mahal. Apalagi setiap melihat harga barang kita selalu mengalikan dengan rupiah..wuih.kayaknya lebih baik beli di Indonesia deh.. Tapi kalau mau ngeceng, boleh datang ke mall ini, ada banyak perwakilan suku bangsa di dunia yag datang ke mall ini.



Tapi kalau mau belanja yang agak murahan dikit, bisa mengunjungi Souq. Ya..kalau di Jakarta kayak Mangga Dua gitu deh..Disini mau beli abaya, atau oleh-oleh juga ada.


Di Doha banyak sekali orang asing yang bekerja disini, seperti orang India, Indonesia, bahkan orang bule sendiri. Karena penduduk aslinya (biasa disebut orang Qatari) hanya 350.000 orang dan selebihnya banyak diisi orang India (termasuk Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Srilangka) yang hampir mengisi semua lini kehidupan.


Orang Qatar sendiri memiliki pakaian tradisional yang sepertinya amat mereka banggakan. Kalau yang pria memakai pakaian terusan putih dan yang wanita mengenakan abaya hitam. Ada yang pakai cadar, ada yang tidak. Dan ciri khas satu lagi mereka suka pakai kaca mata hitam!! Ya..mungkin karena cuaca disini panas kali ya..sambil sekalian gaya..hm..boleh juga.


Aku sendiri sebenarnya kepengen sekali jalan-jalan ke tempat yang lain. Tetapi berhubung jagain keponakan yang males jalan keluar..ya terpaksa aku dirumah aja. Syukurnya disini fasilitas internet murah. Di flat internet bisa dipakai 24 jam. Ya..jadi masih ada hiburan


















11.22.2008

Goes to Doha, Qatar


Setelah melewati perjalanan 10 jam akhirnya aku dan ibu sampai juga di Doha ibukota negara Qatar. Kami berangkat pukul 15.10 wib naik pesawa Etihad Airways transit di Abu Dhabi dan sampai di Doha pukul 10 malam waktu setempat. Waktu di Indonesia kira-kira pukul 2 dini hari. Perbedaan waktu antara Indonesia-Qatar sekitar 4 jam.


Di dalam pesawat banyak sekali tenaga kerja dari Indonesia yang mencari kerja di negara Arab. Hampir setengah penumpang pesawat adalah TKI. Ini adalah cermin betapa sulitnya mencari kerja di Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan mereka berprofesi sebagai pembantu rumah tangga.


Perjalananku ke Qatar ini sebenarnya untuk mengunjungi abangku yang bekerja disalah satu perusahaan minyak di Qatar dan sekalian untuk menjaga keponakan karena abang dan kakak ipar mau pergi naik haji. Jadinya aku dan ibu akan mengurus 2 anaknya Fathan dan Faiza selama 3 minggu.


Kemarin aku baru jalan ke pantai Corniche di Doha. Pantainya tenang dan indah. Disekelilingnya dibuat taman untuk berolahraga dan mainan anak-anak. Ternyata disini banyak orang Indonesia juga lo.. syukurnya bukan hanya sebagai pembantu rumah tangga tapi sebagai tenaga ahli.

Setelah dari Corniche, kami makan di rumah makan Padang. Ya..ternyata jauh-jauh ke Doha balik lagi ke rumah makan Padang hehehe.. Ini membuktikan orang Padang ada dimana-mana. Bahkan katanya kalo ada orang tinggal di bulan, maka rumah makan padang juga ada disana.Hehehe..Disini aku juga menyesuaikan diri untuk menyetir mobil dengan stir kiri. Kadang-kadang masih suka lupa.. trus yang buat gugup, denda atas pelanggaran rambu lalu lintas disini mahal sekali. Orang-orang di Qatar menyetir mobil kencang-kencang beda banget sama di Jakarta yang macetnya minta ampun. Disini jalannya juga mulus-mulus banget.

Hm..mungkin aku bisa cerita lagi selama aku di Doha.