
"Mau mengalir kemana?" tanyamu ketika membaca stutus ymku.
"ke suatu tempat...ke planet lain" jawabku sekenanya
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan sakiti dirimu sendiri" katamu memperingatkanku
"Aku tidak akan menyakiti diriku. Hanya saja orang lain yang menyakitiku" sindirku
"Aku minta maaf...." katamu
Entah sudah berapa kali aku mendengar kata maaf ini. Bukan aku tidak ingin memaafkan peristiwa kemarin yang membuatku menangis 3 hari dan membuatku remuk luar dalam. Aku hanya belum bisa pulih. Aku sudah memaafkan, tapi belum bisa melupakan. Peristwa itu guncangan hebat dalam diriku. Tidak mudah untuk segera sembuh dari luka yang begitu mendalam.Buktinya, aku masih membiarkanmu datang.
"Apa kabarmu?" tanyamu
"Aku sudah baik-baik saja. Semua sudah berlalu. Everything's gonna be okay kan? I need to restart my life" kataku sambil menghela nafas
"Sungguh? Berarti kau akan melupakan aku. Melupakan bahwa aku pernah hadir dalam hidupmu?"
Aku tersenyum simpul.
"Aku tidak pernah menyesali apapun. Dan aku tidak ingin melupakan siapapun. Peristiwa kemarin memberiku banyak pelajaran" kataku yang mencoba menetralisir perasaan.
"Aku ingin kau melupakannya.." katamu lirih
"Sungguh? Kau ingin aku melupakan semuanya?" tanyaku memastikan
"Terserah padamu..."
Akh...kau memang selalu begitu. Kadang kau bilang A, ketika aku memastikan kau berubah pikiran. Semudah itu. Semudah ketika kau mengucap janji, lalu kau ingkar.
"Jika aku punya kesempatan, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku ingin membuatmu tersenyum, tertawa seperti dulu lagi" tuturmu
"Tidak akan pernah. Karena kau akan menyakitikiu lagi", kataku lirih.
"Bolehkah aku melihatmu?" tanyamu sopan
Aku sangat berantakan. Rambut yang baru saja dikeramas belum kusisir. Aku tau kau tidak akan suka melihatnya. Dulu pernah ketika rambut sehabis keramas itu belum dikeringkan, kau bilang tidak suka melihatku seperti itu. Dan kau menyuruhku untuk mengeringkannya pakai hair dryer. Sejak itu aku selalu menyisir rambutku ketika bertemu denganmu, walau itu hanya via webcam
Hingga, terjadi peristiwa di taman itu yang membuatku kecewa. Kau ingkar. Hatiku menjadi dingin. Tidak sehangat dulu yang memberikan keceriaan di sudut-sudut ruang kita. Aku tidak membencimu. Sungguh. Kebencian hanya memberi kotoran dalam hatiku yang akan menambah siksaan bagi batinku.Aku tidak mau mengotori hatiku dengan membencimu.
Hanya saja, aku masih lelah. Biarkan saja aku tidur sejenak.