7.19.2011

Takdir



Waktu berubah begitu cepat
Jam terus berdetak, waktu berjalan keluar
Aku tlah berjuang untuk menemukan jawaban yang
Aku tidak pernah tahu
selalu mengejutkanku
seperti satu juta kilat

Dan di sini aku mengatakan padamu
Setiap detik datang dengan caramu


Kita tidak mengetahui masa depan
Ada waktu untuk hidup
Ada waktu untuk mati
Ada pertemuan
ada perpisahan
Tapi tidak ada yang tidak bisa lepas takdir

Lihatlah semua hal yang kita lakukan
Di bawah matahari yang membakar
ketika kelopak daun berguguran

Tak ada yang bisa melawan takdir
Tidak aku
Juga Kau




Gambar diambil dari sini

7.11.2011

Maaf...




Ternyata kita terlalu rapuh, sehingga kata maaf pun tak lagi berarti. Begitukah kau mendefinisikan kita? Walau perkenalan kita singkat, hanya beberapa hari, tapi rasanya ada ikatan kuat diantara kita. Tidakkah kau rasakan?


Karena aku merasakannya. Ada ikatan diantara kita. Ada kemiripan yang sulit didefinisikan. Ada kisah yang terangkai diantara kita. Yang jelas, aku sayang sama kamu, sahabat.


Aku akui itu memang kesalahanku. Dan bodohnya lagi, aku mengambil keputusan disaat sedang marah. Emosiku sedang meletup letup. Keputusan paling bodoh yang kuambil.

Aku menyesal. Sungguh menyesal. Aku sudah minta maaf. Dan kau masih diam. Apa yang harus kulakukan? :'(



Pelajaran paling berharga yang kudapat : Jangan mengambil keputusan disaat sedang marah.

7.03.2011

Kasus Penjualan Ipad Dian dan Randy : Ketika Konsumen Membela Penjual



Ramainya kasus Ipad yang menangkap Dian dan Randy menimbulkan reaksi yang beragam dari masyarakat. Mereka terjerat UU Perlindungan Konsumen
Adapun ada dua tuntutan yang dilayangkan kepada Dian dan Randy selaku sang penjual ada dua pasal.
1. Karena menjual iPad impor -yang diakui sebagai barang bekas- dan berhubung beli di Singapura jadi tidak dilengkapi 'manual berbahasa Indonesia' yaitu melanggar Pasal 62 Ayat (1) juncto Pasal 8 Ayat (1) Huruf j UU/ 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memiliki manual book berbahasa Indonesia.

2. iPad belum termasuk alat komunikasi resmi. Pasal 52 juncto Pasal 32 Ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, karena iPad belum terkategori alat elektronik komunikasi resmi di Indonesia.


Abimanyu Wachdjoewidajat akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah serta praktisi telematika mengatakan bahwa pengguna tablet PC di Indonesia termasuk pengguna perangkat 'tidak resmi'. "Lagi pula ada banyak perangkat tablet yang menggunakan jalur komunikasi udara bebas yakni Wi-Fi 2.4Ghz. Tetapi pada UU tersebut tetap disalahkan, karena tidak dijelaskan pengecualiannya," Sehingga menurut beliau, Dian dan Randi terkena pasal karet.

Bagaimana reaksi masyarakat selaku konsumen dalam hal ini? Sebagian mereka berpendapat bahwa penangkapan Dian dan Randi terlalu mengada-ada. Bukankah dalam prinsip jual-beli, jika pembeli dan penjual telah sepakat dengan barang dan harga yang telah ditentukan, jual beli menjadi sah?

Baru kali ini saya menyaksikan konsumen membela penjual. Dimana reaksi menuntut Dian dan Randi dibebaskan semakin bergaung. Lihat saja di twitter, mereka menggunakan hastag #freedianrandy. Di kaskus sendiri, mereka membuat Aksi Damai Kaskuser Dukung Agan Dian-Randi. Ini belum lagi tulisan di blog yang mendukung pembebasan mereka.

Adakah yang salah dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen kita? Atau aparat yang salah menafsirkan Undang-undang?

Entahlah. Saya sendiri tidak mengerti hukum. Yang saya tahu, tidak ada pihak yang dirugikan disini, termasuk konsumen. Pantaskah mereka dipenjara?. Bebaskan Dian dan Randy!

Gambar diambil dari sini

7.01.2011

Sesederhana Itu



Kadang kita harus menerima kenyataan yang tidak ingin kita hadapi
Kadang kita harus mendengar sesuatu yang tidak ingin didengar
Kadang kita harus melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat

Begitulah....
Nyatanya, kita dipaksa menerima kenyataan
Mengetahui sesuatu yang tidak ingin diketahui


Tapi aku ingin menjadikannya sederhana...
Sesederhana aku menilai kamu....
Mengenal kamu dengan caraku....
sesederhana itu...

6.27.2011

Meriahnya Jakarnaval HUT 484



Setelah sekian tahun tinggal di Jakarta, baru kali ini saya menyaksikan Jakarnaval. Jakarta karnaval ini diadakan dalam rangka ulang tahun DKI Jakarta yang ke-484. Diikuti lebih dari 100 peserta, dengan beragam budaya dari seluruh Indonesia, mobil hias,mobil antik, dan berbagai aktraksi lainnya.



Ribuan warga antusias menyaksikan perayaan ini. Sayapun berlagak bak jurnalis yang menenteng kamera kemana-mana seakan tidak mau ketinggalan momen. Saya bersama ribuan warga menunggu disekitar area Monas, salah satu rute yang dilewati pawai.

Monas berubah menjadi tempat menjual beraneka jajanan, bahkan bajai yang jarang saya temukan, hari itu bebas hilir mudik


Jakarnaval tahun ini mengangkat tema Harmoni Ragam Jakarta dan diprakarsai oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta. Disini, tidak hanya budaya betawi yang berperan, tapi juga ada di Aceh, Batak, Jawa Timur, serta Papua.






6.22.2011

Dirgahayu Jakarta!




Hari ini, tertanggal 22 Juni 2011, saya mengucapkan Selamat Dirgahayu Jakarta ke 484. Twitter, Facebook hari ini dipenuhi dengan ucapan Selamat Ulang tahun Jakarta. Bagimana wajah Jakarta hari ini?

Hari ini, seperti biasa, Jakarta tetap macet. Malah biasanya, Lenteng Agung yang biasa saya lewati lengang, hari ini menjadi macet. Macet di Jakarta ini merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi Jakarta. Gak heran, kalo kepuasan penikmat jalan di Jakarta adalah yang terendah di dunia.

Buat saya, pekerja yang mencari nafkah di Jakarta, macet merupakan masalah besar yang harus dihadapi sehari-hari. Menjadi serba salah. Mau naik kendaraan pribadi, harga minyak mau dinaikkan, kalo mau naik kereta api, harus rela berdempet dempetan atau kecopetan sekalian. Mau naik angkutan umum, juga harus bersedia dempet dempetan di tengah gemuruh asap knalpot hitam. uff....


Oh Jakarta, masalah transportasi massal memang menjadi masalah pelik. Seharusnya di umurmu yang sudah 484 tahun, Jakarta sudah punya transportasi massal yang nyaman, murah dan cepat. Kebanyang dong, Kuala Lumpur dan Singapore aja sudah punya MRT (Mass rapid Transit). Negara tetangga yang tingkat ekonominya beda-beda tipis sama kita. Apakah ini mimpi tingkat tinggi? Ayo dong Pak Gubernur, wujudkan mimpi ini. Dikau akan dikenang sepanjang masa #halah!

Tapi dilain sisi, Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia memang menampilkan dirinya sebagai kota metropolitan. Lihat saja gedung-gedung tinggi yang ada di pusat perkantoran Kuningan dan Sudirman. Dan mall-mall keren nan mewah yang ada di pusat kota. Gak kalah sama yang di Singapore! Serta adanya jalan layang yang bertingkat-tingkat membuat kota Jakarta menjadi kota sibuk. Walaupun ditengah kolong jembatan layang itu banyak sekali rumah kumuh yang berdiri. *sigh*

By the Way, apapun wajah Jakarta kelak, patutnya kita mengucapkan Dirgahayu Jakarta. Semoga menjadi kota metropolitan yang berbudaya dan bebas macet!

Gambar diambil dari sini

6.14.2011

Heart Attack




Biasanya rasa syukur kita dapatkan ketika kita melihat kebawah. Sehingga sering kita dengar nasihat yang mengatakan, "bersyukurlah kamu, lihatlah ke bawah. Kamu lebih beruntung dari mereka".

Tapi kali ini aku merasakan syukur tanpa harus melihat kebawah. Tanpa harus merasa aku lebih baik dari mereka. Aku bersyukur karena kebesaran Tuhan yang begitu baik padaku.

Belakangan ini, rasanya hatiku mendapat serangan yang begitu hebat. Heart Attack dari beberapa peristiwa yang kualami. Mungkin hati ini sudah lembam karena terus menerus diserang dari berbagai penjuru. Aku sudah menangis karena shock.

Tapi dari peristiwa itu, aku mendapat pelajaran yang berharga. Di tengah rasa muak akan cerita yang tidak aku pahami, aku mencoba menggali hikmah untuk diriku sendiri. Dan bersyukur, Tuhan melindungiku dengan cara yang indah. Baru sekarang aku mengerti.


Buat kamu yang menemaniku pada saat itu, menyaksikan hatiku terluka karena shock, terima kasih telah memberiku pelajaran hati yang sangat berharga. Kita telah melewati beragam peristiwa bersama. Aku pikir, aku tak mampu menggenggam janji itu, tanganku melemah setiap dentuman peristiwa menghampiri. Tapi kau mengulurkan tanganmu erat mencengkram, meyakinkan aku, bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan aku. Dan itu cukup buatku.

Sisanya, aku tidak peduli.

6.07.2011

Hujan yang mengusik


Baru kali ini saya benci hujan. Biasanya, walau hujan turun dan membuat saya basah kuyup, saya tetap suka suara gemercik hujan, suka akan rinainya.Tapi kali ini hujan membuyarkan rencana jalan-jalan saya. Itu yang membuat saya gak suka.

Perjalanan ke Singapore yang telah kami rencanakan, bersama 3 orang teman saya, buyar ketika hampir setiap pagi hujan deras mengguyur Singapore. Kami hanya berharap hujan akan segera berhenti. Sebagai gantinya, kami jalan-jalan di pusat pembelanjan, seperti Orchard dan Mustafa.

Padahal buat saya, yang namanya mall dimana-mana sama aja. Banyak mall-mall bagus di Jakarta yang gak kalah keren dibandingkan dengan yang di Singapore. Tapi daripada bengong di hostel, gak mau kan?


Selain hujan yang membuat saya bete, parahnya, saya sakit disana. Sebenarnya sebelum berangkat, saya sudah sakit. Sakit tulang belakang yang membuat nyeri pinggang dan punggung saya. Kata dokter, saya harus fisioterapi selama seminggu. Tapi karena tiket yang sudah terlanjur dibeli dan tidak bisa dikembalikan, jadinya saya memutuskan untuk berangkat. Berharap obat anti nyeri dari dokter dapat membuat saya sembuh.

Puncaknya, di hari terakhir saya demam. Teman-teman saya pergi shopping membeli oleh-oleh, saya tidur di hostel tempat kami menginap. Pukul 1 mereka kembali dan masih ada sisa 8 jam lagi untuk pulang ke Jakarta. Jadinya kami pergi ke Sentosa Island. Dan lagi-lagi, ketika sedang jalan-jalan dan asyik berphoto ria, rasa nyeri yang luar biasa memaksa saya untuk istirahat. Saya mencari tempat duduk di tempat penjual minum. Benar-benar tidak berdaya.

Ketika sakit, rumah memang tempat yang terbaik


Cerita tentang jalan-jalan di Singapore akan saya posting di blog satu lagi ya lovely travelling

5.28.2011

Ibu dan Laptop



Ibuku, umur 69 tahun, baru saja membeli laptop agar bisa membaca blog anak-anaknya dan untuk bisa berkomunikasi dengan anak dan cucu via skype. Ini memang risiko kami yang tinggal berjauhan.

Kami 4 bersaudara. Anak pertama, perempuan, tinggal di Mesir. Anak kedua tinggal di Medan, anak ke tiga, laki-laki tinggal di Qatar. Aku sendiri, si bungsu tinggal di Jakarta. Ibu tinggal di Medan, bersama kakak. Walaupun rumah ibu dan kakak bersebelahan, tapi kakakku juga sibuk.

Ibuku sendiri dulunya seorang dosen di Universitas Sumatera Utara. Setelah pensiun, ibuku tidak mau mengajar lagi, padahal tawaran mengajar masih ada. Setelah ayah meninggal dan kakak menikah, ibuku tinggal dirumah bersama adiknya. Sepi, tentu saja.


Sekarang ibu sudah punya laptop. Tapi ibu tid
ak bisa menggunakannya. Jadilah kakakku yang mengajarkan ibuku menggunakan laptop. Kami juga menyarankan ibu punya akun facebook agar bisa memantau kegiatan anak-anaknya dari jauh.


Aku salut sama ibu. Di umurnya yang menginjak 69 tahun, tapi tetap tidak mau ketinggalan sama teknologi. Tetap mau belajar sesuatu yang baru. Tetap mau update informasi diluar sana.

Dan yang paling disadari oleh ibu, teknologi itu mem
permudah komunikasi. Komunikasi itu obat kerinduan buat kami yang tinggal berjauhan.

Tadi ibu baru telpon, "isti, kenapa blog isti yang Amazing Indonesia itu photonya kecil sekali? trus blog isti yang Time to change gimana cara bukanya? kak lida baru ajari ibu buka yang amazing aja..."



Rasanya pengen sekali terbang ke Meda
n, mengajari ibu....


PS : Photo pertama : photo aku dan ibu ketika di Belitung
Photo kedua : photo ibu naik ayunan di pulau Burung sehabis stress naik kapal nelayan :)

5.21.2011

Lelaki Tua




Lelaki tua itu biasa duduk di depan pagar rumahnya, dengan kursi reot yang mengayun-ayun badannya. Tidak banyak yang ia lakukan, selain hanya duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumahnya.

Orang-orang memanggilnya Engkong. Ya, dia memang pria keturunan Tionghoa yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Rumah kami hanya selisih 2 rumah. Sehingga ketika aku membuka pagar kerap kali melihat Engkong yang duduk tanpa mengenakan baju, bertelanjang dada. Sesekali ia menyapa dengan gaya ramahnya, "Mau pergi kerja, Uni?".

Kadang aku merasa aman dengan adanya Engkong yang suka duduk di depan rumahnya. Dengan demikian, secara tidak langsung, ia menjaga rumahku yang sering kosong. Engkong memang mengenal baik orang-orang disekeling kompleks kami. Sehingga jika ada orang asing yang lewat, dia pasti akan curiga. Makanya aku selalu merasa aman meninggalkan rumah dalam keadaan kosong.


Pernah, sekali waktu, mobilku mogok. Aku panik sekali. Gak ada orang yang bisa menolongku, karena aku sedang tinggal sendirian dirumah. Dengan sigap, si Engkong menawarkan bantuan. Dia mengecek mobilku dan bilang "ini akinya udah soak. Harus diganti." Lalu, aki mobil yang nyaris kering itupun diisinya dan, sim salambim, entah apa yang Engkong lakukan, si mobil bisa nyala!. Engkong pun bercerita waktu masih muda ia pernah punya bengkel. Karena persaingan yang ketat, bisnis bengkelnya pun karam.

Engkong tinggal bersama anak laki-lakinya. Sebenarnya ia juga risih tinggal bersama menantu perempuan, tapi anaknya inilah yang paling mampu diantara anaknya yang lain. Di umurnya yang menginjak 71 tahun, ia tidak memiliki sumber nafkah yang lain selain bergantung pada anaknya.

Sudah lama aku tidak berbincang dengan Engkong. Sejak aku mulai kerja dan sibuk dengan urusan lainnya. Aku hanya mendengar kabar bahwa Engkong sedang sakit. Tapi entah mengapa aku tidak sempat menjenguknya. Sampai aku mendengar kabar, bahwa Engkong meninggal.

Aku pun segera datang ke rumah duka. Sesampai disana, aku tidak merasakan haru biru kesedihan layaknya orang tua meninggal. Tidak ada tangisan dan air mata. Tidak ada penghormatan yang layak terhadap Engkong.Engkong beru meninggal sekitar 45 menit yang lalu. Belum lama. Aku melihat Engkong yang masih berbaring di kamarnya.

Kamarnya lebih layak kusebut gudang. Ada tv reot, ember, payung, sarung yang bergantung dan pernak-pernik yang penuh sesak. Jendelanya pun seadanya. Sehingga aku dapat merasakan pengapnya kamar Engkong.

Aku melihat ekspresi wajah mereka satu per satu. Tak ada kesedihan. Sepertinya kepergian Engkong adalah suatu kelegaaan. Bahkan belum satu jam meninggal, jenazah Engkong hendak di kremasi malam itu juga. Ini memang pesan Engkong yang beragama Konghucu, kalo kelak dia meninggal, dia ingin dikremasi dan dibuang ke laut.

Anak-anak Engkong banyak yang beragama Islam, termasuk anak dimana Engkong tinggal. Mereka muslim yang taat. Tapi Engkong memang tidak tertarik memeluk agama Islam dan tetap setia pada agama leluhurnya, Konghucu.

Sehingga, di hari kematian Engkong, tak ada terdengar ayat-ayat Qur'an lazimnya orang meninggal. Semua merasa bingung bagaimana caranya mendoakan Engkong. Termasuk para tetangga. Konon, kabarnya, doa orang yang tidak seiman, tidak akan sampai ke Tuhan.

Aku sendiri merasa sedih. Bukan karena aku takut doaku tidak sampai, tapi sedih karena Engkong tidak mendapatkan penghormatan dari anak-anaknya. Bahkan ketika sakitpun, Engkong tidak dibawa ke Rumah Sakit. Alasannya, si Engkong tidak mau.

Aku jadi ingat Ayah. Walau sudah 3 tahun yang lalu Ayah meninggal, sampai detik inipun aku masih menangis mengingatnya. Kenangan bersamanya abadi dalam jiwaku. Aku menangis. Menangis karena ingat sama Ayah.