
Asia bagaikan tubuh hidup yang terdiri dari atas tanah dan air. Jantung yang berdetak di dalamnya adalah Afghanistan. Kehancuran Afghanistan adalah kehancuran Asia. Kemajuan dan kemakmurannya adalah kesejahteraan Asia.
--Allama Iqbal--
--Allama Iqbal--
Apa yang ada dibenakmu tentang Afghanistan? Negara gersang dengan perbukitan yang gundul? atau laki-laki yang berjeggot tebal dan perempuan yang menutup diri dibalik burqanya? atau negeri dengan Islam extrem yang terkenal dengan Talibannya? atau juga negeri penuh debu dan peperangan yang tak kunjung usai?
Tidak ada yang salah dengan semua persepsi yang ada dibenakmu saat ini. Afghanistan adalah sebuah negeri impian bagi para penduduknya yang telah bermigrasi ke berbagai negara seperi Pakistan, India, Iran dan belahan dunia lainnya akibat perang yang tak kunjung usai. Dan Agustinus Wibowo menceritakan kisah perjalanannya ke negeri Selimut Debu dengan begitu apik seakan kita ikut dalam petualangannya.
Tapi bagiku, membaca buku ini bukan sekedar ikut dalam perjalanan sang penulis, tapi buku ini membuatku lebih mengenal dirimu. Bagaimana setiap lembar yang ditulis oleh Agus adalah kisah tentang dirimu yang tak pernah terungkap sebelumnya. Dan akupun larut dalam kisah-kisah yang diceritakan Agus melalui buku ini.
Kau beruntung. Kau tidak termasuk anak-anak afghani seperti yang diceritakan Agus lewat bukunya dimana banyak sekali anak-anak yang tidak sekolah, bahkan tidak bisa membaca tulis. Kau beruntung. Kau bisa sekolah di luar negeri, di sekolah penerbangan yang bergengsi. Semoga kelak kau bisa membantu negerimu dengan tanganmu yang kokoh, seperti sering kau bilang bahwa kita harus membantu yang lemah.
Lewat buku ini, sekarang aku mengerti mengapa kau bisa berbahasa urdu. Dimana pada zaman Taliban masih berkuasa, terjadi pengungsian yang besar-besaran ke Pakistan. Taliban membuat negeri ini lumpuh, tak berdaya, ditambah dengan peperangan dimana-mana bahkan terjadi kebencian antar suku yang begitu menyolok. Sehingga Pakistanlah tempat untuk berlindung dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Syukurnya, engkau tidak punya pikiran kolot dan islam extrem yang selama ini kubayangkan tentang Afghanistan. Kau tidak berjenggot tebal. Kau punya pikiran yang moderat. Dan yang paling aku sukai dari dirimu adalah bagaimana kau menghargai orang lain. Pemikiranmu yang tajam dan hatimu yang lembut membuat aku suka berbicara denganmu berjam-jam. Mungkin inilah efek dari pendidikan dan pengalaman hidup yang keras.
Melaui novel ini, sebagian pertanyaanku tentangmu terjawab. Novel Selimut Debu bukan sekedar cerita tentang seorang traveler keliling dunia dengan gegap gempitanya, tapi ini sebuah cerita tentang petualangan yang menampilkan kisah-kisah yang tak pernah kalian tahu sebelumnya. Tentang budaya, islam, kepedihan, peperangan, kehancuran hidup dan tentang persaudaraan. Tak heran ada pepatah Afghan "Hari pertama adalah teman, hari berikutnya jadi saudara".
Buku ini sangat layak dibaca bagi yang menyukai petualangan. Recommended!





