
Lelaki tua itu biasa duduk di depan pagar rumahnya, dengan kursi reot yang mengayun-ayun badannya. Tidak banyak yang ia lakukan, selain hanya duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumahnya.
Orang-orang memanggilnya Engkong. Ya, dia memang pria keturunan Tionghoa yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Rumah kami hanya selisih 2 rumah. Sehingga ketika aku membuka pagar kerap kali melihat Engkong yang duduk tanpa mengenakan baju, bertelanjang dada. Sesekali ia menyapa dengan gaya ramahnya, "Mau pergi kerja, Uni?".
Kadang aku merasa aman dengan adanya Engkong yang suka duduk di depan rumahnya. Dengan demikian, secara tidak langsung, ia menjaga rumahku yang sering kosong. Engkong memang mengenal baik orang-orang disekeling kompleks kami. Sehingga jika ada orang asing yang lewat, dia pasti akan curiga. Makanya aku selalu merasa aman meninggalkan rumah dalam keadaan kosong.
Pernah, sekali waktu, mobilku mogok. Aku panik sekali. Gak ada orang yang bisa menolongku, karena aku sedang tinggal sendirian dirumah. Dengan sigap, si Engkong menawarkan bantuan. Dia mengecek mobilku dan bilang "ini akinya udah soak. Harus diganti." Lalu, aki mobil yang nyaris kering itupun diisinya dan, sim salambim, entah apa yang Engkong lakukan, si mobil bisa nyala!. Engkong pun bercerita waktu masih muda ia pernah punya bengkel. Karena persaingan yang ketat, bisnis bengkelnya pun karam.
Engkong tinggal bersama anak laki-lakinya. Sebenarnya ia juga risih tinggal bersama menantu perempuan, tapi anaknya inilah yang paling mampu diantara anaknya yang lain. Di umurnya yang menginjak 71 tahun, ia tidak memiliki sumber nafkah yang lain selain bergantung pada anaknya.
Sudah lama aku tidak berbincang dengan Engkong. Sejak aku mulai kerja dan sibuk dengan urusan lainnya. Aku hanya mendengar kabar bahwa Engkong sedang sakit. Tapi entah mengapa aku tidak sempat menjenguknya. Sampai aku mendengar kabar, bahwa Engkong meninggal.
Aku pun segera datang ke rumah duka. Sesampai disana, aku tidak merasakan haru biru kesedihan layaknya orang tua meninggal. Tidak ada tangisan dan air mata. Tidak ada penghormatan yang layak terhadap Engkong.Engkong beru meninggal sekitar 45 menit yang lalu. Belum lama. Aku melihat Engkong yang masih berbaring di kamarnya.
Kamarnya lebih layak kusebut gudang. Ada tv reot, ember, payung, sarung yang bergantung dan pernak-pernik yang penuh sesak. Jendelanya pun seadanya. Sehingga aku dapat merasakan pengapnya kamar Engkong.
Aku melihat ekspresi wajah mereka satu per satu. Tak ada kesedihan. Sepertinya kepergian Engkong adalah suatu kelegaaan. Bahkan belum satu jam meninggal, jenazah Engkong hendak di kremasi malam itu juga. Ini memang pesan Engkong yang beragama Konghucu, kalo kelak dia meninggal, dia ingin dikremasi dan dibuang ke laut.
Anak-anak Engkong banyak yang beragama Islam, termasuk anak dimana Engkong tinggal. Mereka muslim yang taat. Tapi Engkong memang tidak tertarik memeluk agama Islam dan tetap setia pada agama leluhurnya, Konghucu.
Sehingga, di hari kematian Engkong, tak ada terdengar ayat-ayat Qur'an lazimnya orang meninggal. Semua merasa bingung bagaimana caranya mendoakan Engkong. Termasuk para tetangga. Konon, kabarnya, doa orang yang tidak seiman, tidak akan sampai ke Tuhan.
Aku sendiri merasa sedih. Bukan karena aku takut doaku tidak sampai, tapi sedih karena Engkong tidak mendapatkan penghormatan dari anak-anaknya. Bahkan ketika sakitpun, Engkong tidak dibawa ke Rumah Sakit. Alasannya, si Engkong tidak mau.
Aku jadi ingat Ayah. Walau sudah 3 tahun yang lalu Ayah meninggal, sampai detik inipun aku masih menangis mengingatnya. Kenangan bersamanya abadi dalam jiwaku. Aku menangis. Menangis karena ingat sama Ayah.











