5.14.2010

Pada lembayung Senja

Tulisan ini saya ikutsertakan dalam Lomba Blog Berbagi Kisah Sejati yang diadakan oleh mba Anazkia dan Denaihati.


Pada Lembayung Senja


Aku rindu ayah. Itulah yang kurasakan ketika setelah sekian bulan aku tidak bertemu dengannya. Rindu akan humornya, perhatiannya, dan kasih sayangnya. Dia bukan hanya sekedar seorang Bapak buatku. Tapi lebih dari itu. Dia juga sahabatku dikala duka, dimana aku bebas menceritakan serpihan-serpihan dalam hidupku.Dia juga guru buatku, yang mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada orang lain.

Pagi ini aku dapat kabar dari kakakku yang di Medan, bahwa kedua adik ayahku sakit keras. Aku juga tidak mengerti mengapa cobaan datang beruntun seperti ini. Mereka yang lebih muda, seharusnya lebih sehat dan lebih aktif. Tapi kenyataannya fisik mereka jauh lebih lemah dari ayahku. Dan parahnya, gairah hidup mereka juga tidak menyala-nyala seperti orang pada umumnya. Mereka menjadi orang yang cenderung pesimis dan pasrah pada keadaan.


Pukul 05.00 WIB. Aku berencana sholat shubuh. Tapi entah mengapa, aku seperti mengalami kejadian luar biasa dalam hidupku. Aku bermimpi tentang 3 orang yang pergi naik haji dan setelah ketiganya menyelesaikan haji mereka meninggal. Satu diantara ketiganya aku kenal persis. Dia ayahku. Dan dua orang lagi aku tidak mengenalnya. Rasanya bergemuruh dada ini. Kutunggu sampai matahari menampakkan wajahnya. Aku akan menelpon kakakku.

Syukurlah ayah baik-baik saja. Mimpi hanya bunga tidur yang tidak dapat diyakini kebenarannya. Walau kadang dia hadir sebagai sinyal dalam hidup ini. Akupun menelepon ayah memastikan dia baik-baik saja. Mungkin aku hanya rindu.

Kakakku mengabarkan pakcik Tato meninggal dunia. Dan 40 hari kemudian, menyusul pakcik Suprap meninggal dunia. Keluarga yang di Medan dalam keadaan duka yang sangat dalam, terutama ayahku. Ayah sudah ikhlas. Tetapi kehilangan orang yang disayangi tetap saja memilukan.

Kamis, 3 Mei 2007, ayah menelponku. Ayah mengatakan ayah lagi tidak enak badan, jantungnya debar-debar. "Doakan ayah ya Isti..ayah masih pengen lihat cucu". Aku berusaha menghibur ayahku, mengatakan bahwa ayah harus ke dokter dan ayah akan baik-baik saja.

Hari Sabtu, kakakku menelpon dengan isakan tangis. Dia meminta agar aku segera ke Medan, ayah sakit keras. Dan yang lebih menyakitkan lagi, kakakku teringat akan mimpiku 3 bulan lalu. Seakan itu pukulan keras buatku. Akupun segera ke bandara Soekarno Hatta dan hunting tiket disana.


Sesampai disana, ayah telah masuk ruang ICU. Kusentuh tangan ayah yang sudah tidak berdaya. Kubisikkan " ini Isti yah..Isti datang untuk menjenguk ayah". Tanpa kuduga, ayah tersenyum.

Kondisi ayah semakin parah. Senin, 7 Mei 2007 pukul 23.10 WIB ayah mengembuskan nafas terakhirnya. 30 Menit setelah sampainya abangku yang selama ini tinggal di Qatar. Itulah hari paling menyedihkan buatku. Ada rasa sesal didada, mengapa aku tidak memperi perhatian lebih kepada ayah pada saat sinyal itu datang.

Aku bukan hanya kehilangan seorang ayah. Tapi aku telah kehilangan sahabat terbaik yang pernah aku punya, aku telah kehilangan guru kehidupanku yang mengajarkanku akan nilai-nilai kehidupan.

Selamat jalan ayahandaku tercinta, doa-doaku akan menyertaimu. Dan aku akan selalu mengingat bahwa disetiap senja kita makan jagung bakar di halaman rumah disertai dengan teh manis hangat.

18 comments:

inge / cyber dreamer said...

tak perlu terlalu menyesal mba'...
sudah jalanNya seperti itu...
selalu ada hikmah disetiap kejadian...

semoga menang ya mba'...

jika rindu kirim doa unk ayah tercinta ^^
keep smile..

hendro-prayitno said...

wah sobat bikin aku sedih,,aku ga punya ayah..tapi alhamdullilah aku masih punya ibu

Insan said...

hubungan darah yg begitu romanis..selamat mencinta

Anazkia said...

hiks, kisahnya hampir saya mah saya :((

Seoga kita mampu menjadi anak yang sholehah, Insya Allah...

Makasih yah,Mbak dah berpartisipasi

Sang Cerpenis bercerita said...

jadi terharu bacanya. semoga menang ya,Is

Ariyanti said...

Meskipun dia telah tiada, tetapi semangat dan kasih sayangnya selalu ada

indobrad said...

cerita yang indah. thanks udah sharing ya :) brad

AISHALIFE-LINE said...

Gak tahan aku,membaca kisah sedih seperti ini.Turut berduka atas meninggalnya papamu sis.Moga mendapat tempat layak di sisiNya.Dan moga dirimu sekeluarga di beri kesabaran and ketabahan Allah swt amin.

Moga menang lombanya ya sis...

Noor's blog (inside of me ) said...

Ceritanya sangat mengharukan mba...tapi makasih sudah mengingatkan saya untuk lebih perhatian kepada orangtua...

Salam hangat & sukses selalu...

Kang Sugeng said...

Hiks jadi ikutan sedih... saya juga udah yatim piatu sejak lama Mbak

TRIMATRA said...

pengen baca mpe selesai tapi templatenya rusak nih, jadinya ribet ngebacany

@cuman ngingetin loh@...

munir ardi said...

sabar mbak memang begitulah yang telah digariskan , aku juga telah yatim piatu sejak tahun kemarin

ieyaz said...

ceritanya mengharukan banget mbak.. hikz..hikzz.. :(


goodluck ya buat lombanya.. :D

anyindia said...

semoga cepat membaik ya mbak

Itik Bali said...

semoga semuanya akan kembali baik2 saja
bagus banget artikelnya
semoga menang ya..

Lumbunghati said...

yang tabah ya mbak..

catatan kecilku said...

Terharu aku membacanya mbak... Semoga menang ya di kontes blognya mBak Anaz.

Anonymous said...

guoweigang When moment in time pertains cheap pandora find expensive jewelry regarding Mother you'll notice engagement pandora jewelry rings is among the actual ideal presents you can actually produce buy Pandora your mother. You can find explanation why folks should display discount pandora his or her's mother's with gifts. A birthday and mom's birthday are pandora 2010 usually a couple of the extremely difficult times to be able Pandora Bangles to opt for the surprise for the purpose of Beads Banglesmommy, bracelets is usually something you Pandora Bangles Sale mom will forever want in addition to clothing. cheap pandora bracelets The many you will discover six handy Pandora bracelet techniques for purchasing the best Single parent's expensive jewelry.