8.02.2011

Metamorfosis



Kau selalu hadir dalam setiap metamorfosisku. Entah sebagai kupu-kupu yang rindu kebebasan namun rapuh, atau hanya sebagai bunga di taman yang gugur ditiup angin. Kau mengenalku sebelum aku menjadi sesiapa. Hanya tubuh tanpa gairah, tanpa hasrat yang menggebu. Bagiku hidup adalah hitam dan putih. Siang dan malam. Aku tidak mengenal dunia lain.Aku tidak mengenal dunia abu-abu.

Tapi kau membuka duniaku menjadi lebih berwarna. Bahwa ada dunia lain yang lebih indah dari yang selama ini kukenal. Aku menjadi terkagum karenanya. Bahwa hidup bukan hanyalah sekedar rutinitas. Hidup bukanlah suatu kepasrahan.Tapi hidup adalah mengejar cita-cita, mengejar impian.


Satu per satu lembaran mimpi kubuka. Kau menjadi bintang bagiku. Penunjuk arah yang akan menerangiku ketika aku tersesat. Kadang, kau menjadi sandaran bagiku ketika aku rapuh dalam tangisan. Kau selalu menemaniku dalam suka dan duka.

Aku membutuhkan kamu. Itulah yang kutau. Jika ketergantunganku padamu menimbulkan rasa lain... aku gak tau...

7.25.2011

Olahraga ke UI yuk..



Hari Minggu kemarin saya olahraga di sekitar Universitas Indonesia (UI). Tempat ini memang tempat favorit saya untuk menghirup udara segar sembari berolah raga. Kadang kami bersepeda mengitari kampus UI yang rindang. Tapi sayang, karena sepeda saya bannya kempes, jadinya kami hanya jogging.


Ada gedung yang unik ketika saya bermain kesana. Ternyata itu adalah perpustakaan UI yang baru dibangun. Konon, itu adalah perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan modern. Ini untuk memudahkan akses informasi ke mahasiswa. Saya sendiri tidak sempat masuk, karena perpustakaannya belum dibuka. Jadi hanya lihat-lihat dari luar saja.


Ada danau disekitar perpustakaan. Kabarnya, perpustakaan UI ini tidak hanya untuk menimba ilmu, tapi juga untuk mencari inspirasi. Makanya dikelilingi dengan taman yang indah. Agar inspirasi-insipirasi di kepala pada keluar dan lahirlan ide-ide cemerlang. Asyik juga ya?




Selain itu, ada pohon yang unik disana. Namanya pohon Baobab yang berasal dari Afrika. Kabayang gak gimana bawa pohon segede ini dari Afrika? Jangan dibayangi deh, nikmati aja...hehe...Syukurnya pohon ini bisa bertahan di Indonesia. Bahkan sudah mulai tumbuh daun-daunnya.


Selain tamannya yang indah, kampus ini menyediakan jalur sepeda. Sehingga yang naik sepeda gak perlu rebutan jalan sama pengendara motor dan mobil. Dan yang nyamannya lagi, di sepanjang jalan di sekitar kampus, bersih, bebas sampah. Hanya sampah daun-daun kering yang berguguran itupun tidak banyak. Sepertinya mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus sudah menyadari pentingnya kebersihan.

Yuk...olahraga ke UI. Dan nikmati kesegaran udaranya!

7.19.2011

Takdir



Waktu berubah begitu cepat
Jam terus berdetak, waktu berjalan keluar
Aku tlah berjuang untuk menemukan jawaban yang
Aku tidak pernah tahu
selalu mengejutkanku
seperti satu juta kilat

Dan di sini aku mengatakan padamu
Setiap detik datang dengan caramu


Kita tidak mengetahui masa depan
Ada waktu untuk hidup
Ada waktu untuk mati
Ada pertemuan
ada perpisahan
Tapi tidak ada yang tidak bisa lepas takdir

Lihatlah semua hal yang kita lakukan
Di bawah matahari yang membakar
ketika kelopak daun berguguran

Tak ada yang bisa melawan takdir
Tidak aku
Juga Kau




Gambar diambil dari sini

7.11.2011

Maaf...




Ternyata kita terlalu rapuh, sehingga kata maaf pun tak lagi berarti. Begitukah kau mendefinisikan kita? Walau perkenalan kita singkat, hanya beberapa hari, tapi rasanya ada ikatan kuat diantara kita. Tidakkah kau rasakan?


Karena aku merasakannya. Ada ikatan diantara kita. Ada kemiripan yang sulit didefinisikan. Ada kisah yang terangkai diantara kita. Yang jelas, aku sayang sama kamu, sahabat.


Aku akui itu memang kesalahanku. Dan bodohnya lagi, aku mengambil keputusan disaat sedang marah. Emosiku sedang meletup letup. Keputusan paling bodoh yang kuambil.

Aku menyesal. Sungguh menyesal. Aku sudah minta maaf. Dan kau masih diam. Apa yang harus kulakukan? :'(



Pelajaran paling berharga yang kudapat : Jangan mengambil keputusan disaat sedang marah.

7.03.2011

Kasus Penjualan Ipad Dian dan Randy : Ketika Konsumen Membela Penjual



Ramainya kasus Ipad yang menangkap Dian dan Randy menimbulkan reaksi yang beragam dari masyarakat. Mereka terjerat UU Perlindungan Konsumen
Adapun ada dua tuntutan yang dilayangkan kepada Dian dan Randy selaku sang penjual ada dua pasal.
1. Karena menjual iPad impor -yang diakui sebagai barang bekas- dan berhubung beli di Singapura jadi tidak dilengkapi 'manual berbahasa Indonesia' yaitu melanggar Pasal 62 Ayat (1) juncto Pasal 8 Ayat (1) Huruf j UU/ 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memiliki manual book berbahasa Indonesia.

2. iPad belum termasuk alat komunikasi resmi. Pasal 52 juncto Pasal 32 Ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, karena iPad belum terkategori alat elektronik komunikasi resmi di Indonesia.


Abimanyu Wachdjoewidajat akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah serta praktisi telematika mengatakan bahwa pengguna tablet PC di Indonesia termasuk pengguna perangkat 'tidak resmi'. "Lagi pula ada banyak perangkat tablet yang menggunakan jalur komunikasi udara bebas yakni Wi-Fi 2.4Ghz. Tetapi pada UU tersebut tetap disalahkan, karena tidak dijelaskan pengecualiannya," Sehingga menurut beliau, Dian dan Randi terkena pasal karet.

Bagaimana reaksi masyarakat selaku konsumen dalam hal ini? Sebagian mereka berpendapat bahwa penangkapan Dian dan Randi terlalu mengada-ada. Bukankah dalam prinsip jual-beli, jika pembeli dan penjual telah sepakat dengan barang dan harga yang telah ditentukan, jual beli menjadi sah?

Baru kali ini saya menyaksikan konsumen membela penjual. Dimana reaksi menuntut Dian dan Randi dibebaskan semakin bergaung. Lihat saja di twitter, mereka menggunakan hastag #freedianrandy. Di kaskus sendiri, mereka membuat Aksi Damai Kaskuser Dukung Agan Dian-Randi. Ini belum lagi tulisan di blog yang mendukung pembebasan mereka.

Adakah yang salah dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen kita? Atau aparat yang salah menafsirkan Undang-undang?

Entahlah. Saya sendiri tidak mengerti hukum. Yang saya tahu, tidak ada pihak yang dirugikan disini, termasuk konsumen. Pantaskah mereka dipenjara?. Bebaskan Dian dan Randy!

Gambar diambil dari sini

7.01.2011

Sesederhana Itu



Kadang kita harus menerima kenyataan yang tidak ingin kita hadapi
Kadang kita harus mendengar sesuatu yang tidak ingin didengar
Kadang kita harus melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat

Begitulah....
Nyatanya, kita dipaksa menerima kenyataan
Mengetahui sesuatu yang tidak ingin diketahui


Tapi aku ingin menjadikannya sederhana...
Sesederhana aku menilai kamu....
Mengenal kamu dengan caraku....
sesederhana itu...

6.27.2011

Meriahnya Jakarnaval HUT 484



Setelah sekian tahun tinggal di Jakarta, baru kali ini saya menyaksikan Jakarnaval. Jakarta karnaval ini diadakan dalam rangka ulang tahun DKI Jakarta yang ke-484. Diikuti lebih dari 100 peserta, dengan beragam budaya dari seluruh Indonesia, mobil hias,mobil antik, dan berbagai aktraksi lainnya.



Ribuan warga antusias menyaksikan perayaan ini. Sayapun berlagak bak jurnalis yang menenteng kamera kemana-mana seakan tidak mau ketinggalan momen. Saya bersama ribuan warga menunggu disekitar area Monas, salah satu rute yang dilewati pawai.

Monas berubah menjadi tempat menjual beraneka jajanan, bahkan bajai yang jarang saya temukan, hari itu bebas hilir mudik


Jakarnaval tahun ini mengangkat tema Harmoni Ragam Jakarta dan diprakarsai oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta. Disini, tidak hanya budaya betawi yang berperan, tapi juga ada di Aceh, Batak, Jawa Timur, serta Papua.






6.22.2011

Dirgahayu Jakarta!




Hari ini, tertanggal 22 Juni 2011, saya mengucapkan Selamat Dirgahayu Jakarta ke 484. Twitter, Facebook hari ini dipenuhi dengan ucapan Selamat Ulang tahun Jakarta. Bagimana wajah Jakarta hari ini?

Hari ini, seperti biasa, Jakarta tetap macet. Malah biasanya, Lenteng Agung yang biasa saya lewati lengang, hari ini menjadi macet. Macet di Jakarta ini merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi Jakarta. Gak heran, kalo kepuasan penikmat jalan di Jakarta adalah yang terendah di dunia.

Buat saya, pekerja yang mencari nafkah di Jakarta, macet merupakan masalah besar yang harus dihadapi sehari-hari. Menjadi serba salah. Mau naik kendaraan pribadi, harga minyak mau dinaikkan, kalo mau naik kereta api, harus rela berdempet dempetan atau kecopetan sekalian. Mau naik angkutan umum, juga harus bersedia dempet dempetan di tengah gemuruh asap knalpot hitam. uff....


Oh Jakarta, masalah transportasi massal memang menjadi masalah pelik. Seharusnya di umurmu yang sudah 484 tahun, Jakarta sudah punya transportasi massal yang nyaman, murah dan cepat. Kebanyang dong, Kuala Lumpur dan Singapore aja sudah punya MRT (Mass rapid Transit). Negara tetangga yang tingkat ekonominya beda-beda tipis sama kita. Apakah ini mimpi tingkat tinggi? Ayo dong Pak Gubernur, wujudkan mimpi ini. Dikau akan dikenang sepanjang masa #halah!

Tapi dilain sisi, Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia memang menampilkan dirinya sebagai kota metropolitan. Lihat saja gedung-gedung tinggi yang ada di pusat perkantoran Kuningan dan Sudirman. Dan mall-mall keren nan mewah yang ada di pusat kota. Gak kalah sama yang di Singapore! Serta adanya jalan layang yang bertingkat-tingkat membuat kota Jakarta menjadi kota sibuk. Walaupun ditengah kolong jembatan layang itu banyak sekali rumah kumuh yang berdiri. *sigh*

By the Way, apapun wajah Jakarta kelak, patutnya kita mengucapkan Dirgahayu Jakarta. Semoga menjadi kota metropolitan yang berbudaya dan bebas macet!

Gambar diambil dari sini

6.14.2011

Heart Attack




Biasanya rasa syukur kita dapatkan ketika kita melihat kebawah. Sehingga sering kita dengar nasihat yang mengatakan, "bersyukurlah kamu, lihatlah ke bawah. Kamu lebih beruntung dari mereka".

Tapi kali ini aku merasakan syukur tanpa harus melihat kebawah. Tanpa harus merasa aku lebih baik dari mereka. Aku bersyukur karena kebesaran Tuhan yang begitu baik padaku.

Belakangan ini, rasanya hatiku mendapat serangan yang begitu hebat. Heart Attack dari beberapa peristiwa yang kualami. Mungkin hati ini sudah lembam karena terus menerus diserang dari berbagai penjuru. Aku sudah menangis karena shock.

Tapi dari peristiwa itu, aku mendapat pelajaran yang berharga. Di tengah rasa muak akan cerita yang tidak aku pahami, aku mencoba menggali hikmah untuk diriku sendiri. Dan bersyukur, Tuhan melindungiku dengan cara yang indah. Baru sekarang aku mengerti.


Buat kamu yang menemaniku pada saat itu, menyaksikan hatiku terluka karena shock, terima kasih telah memberiku pelajaran hati yang sangat berharga. Kita telah melewati beragam peristiwa bersama. Aku pikir, aku tak mampu menggenggam janji itu, tanganku melemah setiap dentuman peristiwa menghampiri. Tapi kau mengulurkan tanganmu erat mencengkram, meyakinkan aku, bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan aku. Dan itu cukup buatku.

Sisanya, aku tidak peduli.

6.07.2011

Hujan yang mengusik


Baru kali ini saya benci hujan. Biasanya, walau hujan turun dan membuat saya basah kuyup, saya tetap suka suara gemercik hujan, suka akan rinainya.Tapi kali ini hujan membuyarkan rencana jalan-jalan saya. Itu yang membuat saya gak suka.

Perjalanan ke Singapore yang telah kami rencanakan, bersama 3 orang teman saya, buyar ketika hampir setiap pagi hujan deras mengguyur Singapore. Kami hanya berharap hujan akan segera berhenti. Sebagai gantinya, kami jalan-jalan di pusat pembelanjan, seperti Orchard dan Mustafa.

Padahal buat saya, yang namanya mall dimana-mana sama aja. Banyak mall-mall bagus di Jakarta yang gak kalah keren dibandingkan dengan yang di Singapore. Tapi daripada bengong di hostel, gak mau kan?


Selain hujan yang membuat saya bete, parahnya, saya sakit disana. Sebenarnya sebelum berangkat, saya sudah sakit. Sakit tulang belakang yang membuat nyeri pinggang dan punggung saya. Kata dokter, saya harus fisioterapi selama seminggu. Tapi karena tiket yang sudah terlanjur dibeli dan tidak bisa dikembalikan, jadinya saya memutuskan untuk berangkat. Berharap obat anti nyeri dari dokter dapat membuat saya sembuh.

Puncaknya, di hari terakhir saya demam. Teman-teman saya pergi shopping membeli oleh-oleh, saya tidur di hostel tempat kami menginap. Pukul 1 mereka kembali dan masih ada sisa 8 jam lagi untuk pulang ke Jakarta. Jadinya kami pergi ke Sentosa Island. Dan lagi-lagi, ketika sedang jalan-jalan dan asyik berphoto ria, rasa nyeri yang luar biasa memaksa saya untuk istirahat. Saya mencari tempat duduk di tempat penjual minum. Benar-benar tidak berdaya.

Ketika sakit, rumah memang tempat yang terbaik


Cerita tentang jalan-jalan di Singapore akan saya posting di blog satu lagi ya lovely travelling